Pahit Manis Dalam Tiga Peran Ona

Oleh Yuli Andari Merdikaningtyas

Menjadi perempuan muda di Indonesia tidak mudah karena ada banyak hal yang mau tidak mau harus dialami, dinegosiasi, dan dihadapi dalam hidup yang tak sederhana. Setidaknya itu kesimpulan saya setelah menonton film dokumenter “Between the Devil and Deep Blue Sea” karya sutradara Dwi Sujanti Nugraheni yang diproduseri oleh Yayasan Kampung Halaman dan akan rilis akhir tahun ini. Film ini merekam kepingan kisah Ona, perempuan muda berusia 20 tahun yang memiliki impian besar untuk menjadi seorang ahli Biologi Kelautan (Marine Biologist). Ia berasal dari keluarga nelayan yang tinggal di desa Kasuwari, Pulau Kaledupa (salah satu pulau di gugusan Kepulauan Wakatobi), Provinsi Sulawaesi Tenggara.

Secara garis besar, storyline dokumenter ini memperlihatkan lika-liku perjalanan hidup Ona sebagai perempuan muda dengan tiga predikat yang disandangnya yaitu sebagai mahasiswi, anak perempuan dari keluarga nelayan, dan seorang gadis yang mulai mencari jati dirinya. Meskipun tumbuh sebagai perempuan yang berani menghadapi hidup dan menikmati setiap pengalaman baru yang datang padanya, Ona memiliki masa lalu yang tak mudah ia lupakan. Ia ‘terpaksa’ bertunangan dengan La Nua, karena lelaki ini memperkosanya pada kencan pertama mereka. Dengan tujuan menyelamatkan nama keluarganya, Ona meminta pertanggungjawaban keluarga La Nua dengan cara melamarnya. Namun, bersama La Nua, Ona harus berpura-pura tunduk dan banyak mengalah. Ia berpikir bahwa dia punya cukup waktu untuk menyelesaikan studinya sebelum mereka menikah, namun kenyataannya dosen tidak memberikan nilai yang memuaskannya. Ona mencoba untuk tetap fokus pada mengarahkan peta perjalanannya sendiri untuk menuju usia dewasa dan menjadi wanita yang percaya atas kemampuannya sendiri. Tulisan ini mencoba menyibak tiga layar dalam dimensi kehidupan Ona berdasarkan peran yang disandangnya.

Peran Pertama: Ona sebagai mahasiswi

Ona adalah satu dari segelintir perempuan yang beruntung dapat mengakses pendidikan tinggi dan menuntut ilmu di sebuah universitas di Kendari yang jaraknya ratusan kilometer dari desanya yang terpencil dan terisolasi laut. Keberuntungan yang dinikmati Ona berarti pengorbanan kedua orang tuanya yang hidup dari pekerjaan tak menentu pendapatannya yaitu sebagai nelayan tradisional. Biaya kuliah yang harus terlunasi setiap semester adalah perkara yang harus dinegosiasi dengan proses panjang karena menyangkut pendistribusian pendapatan atau tabungan keluarga untuk hal yang lebih prioritas. Sebagai anak pertama yang mengenyam bangku pendidikan tinggi, Ona adalah harapan bagi kedua orang tuanya.

Sebagai gadis yang ceria dan optimis, Ona menikmati pengalaman barunya sebagai mahasiswi. Ia merantau dari pulau kecilnya menuju kota. Bagi saya, Ona adalah representasi perempuan muda yang hidup di pulau-pulau kecil di Indonesia. Simbol dari perjuangan tiada henti untuk mendapatkan akses pendidikan, meningkatkan kualitas diri, dan merantau ke kota besar untuk mengejar dan mewujudkan cita-citanya. Jika tidak, maka laut akan membatasi segala impian atau tradisi yang akan mengukung mereka dengan terbatasnya pilihan.

Cerita Ona, mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri dan pengalaman para perempuan yang tinggal di pulau-pulau kecil di bagian lain Indonesia. Beberapa tahun lalu saya pernah melakukan riset tentang kehidupan perempuan muda di sebuah pulau kecil di tengah laut. Pulau tersebut secara administrasi menjadi sebuah desa nelayan, sebut saja namanya desa Bulan Sabit. Sama dengan kehidupan para perempuan yang hidup di desanya Ona, perempuan muda di desa Bulan Sabit juga mengalami kendala dalam mengakses pendidikan yang lebih tinggi. Rata-rata mereka putus sekolah di usia SMP atau SMA setelah itu mereka tinggal di rumah membantu ibu melakukan pekerjaan rumah atau mencoba menjalankan ekonomi dengan jualan makanan kecil untuk mengisi waktu dan kebosanan. Tidak mungkin bekerja dengan bayaran yang layak jika mengandalkan ijazah SMP atau SMA. Beberapa dari mereka mengandalkan koneksi untuk bisa bekerja di toko atau menjadi pembantu rumah tangga.

Tidak mudah bagi seorang perempuan untuk terus menghidupi cita-citanya karena masyarakat sekitar masih terlalu ‘nyaman’ dengan tradisi yang sudah berurat-akar dan tidak pernah mempertanyakan apakah nilai dan tradisi yang ada sudah memberikan hak yang sama atau tetap tidak memberikan banyak pilihan kepada perempuan. Punya impian bagi perempuan adalah sebuah pijakan awal untuk berpikir maju, lalu mengejar impian akan menjadi nilai lebih, dan percaya bahwa ia bisa mewujudkan impiannya dengan usahanya sendiri adalah hal yang paling membahagiakan. Berharap kepada masyarakat untuk mendukung pilihan dan impian perempuan masih terlalu riskan karena pada kenyataannya mereka mengarahkan pada mitos bahwa semulia-mulianya peran perempuan adalah segera mencari pasangan hidup dan memproduksi anak.

Beberapa adegan dalam dokumenter ini memperlihatkan perjalanan Ona naik kapal kecil yang membawanya dari kampung halamannya menuju tempatnya menuntut ilmu. Transportasi laut adalah satu-satunya cara untuk mencapai kota. Arus laut yang tak menentu membuat penumpang termasuk Ona harus selalu siap sedia untuk mengamankan barang mereka ketika ombak tinggi maupun angin kencang. Namun, angin kencang dan laut yang tak pernah tenang bukan suatu halangan bagi perempuan seperti Ona. Kesempatan untuk bisa mengejar cita-cita dan pergi dari zona nyaman kampung halamannya yang terpencil adalah anugerah yang harus dia syukuri. Sehingga tidak berlebihan apabila sutradara film ini mengutip tentang data Global Gender Gap 2017 dalam statementnya. Berdasarkan data tersebut Indonesia berada di peringkat 88 dari 144 negara dalam hal kesenjangan gender, di mana tingkat partisipasi perempuan dalam pendidikan, ekonomi dan pekerjaan jauh tertinggal.

Film dokumenter ini secara perlahan memaparkan realita kehidupan perempuan muda di wilayah transisi di Indonesia melalui kepingan kisah Ona. Kepada para penontonnya film ini memberi pesan tentang bagaimana kesempatan harus diraih untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan. Berani bermimpi untuk terbang tinggi keluar dari pulau kecil untuk sebuah harapan yang lebih baik.

Peran Kedua: Ona sebagai anak perempuan

Sebagai anak perempuan pertama yang mengenyam pendidikan tinggi, Ona adalah contoh bagi kedua adik perempuannya. Dalam kultur masyarakat Indonesia, kakak akan menjadi panutan bagi adik. Kehidupan yang dilalui Ona di kampung halaman tidak bisa dikatakan ideal bahkan mungkin tidak mudah. Di usia yang masih belia ia mengalami perkosaan oleh pacarnya di saat kencan pertama mereka. Luka batin ini harus ia simpan sendiri karena dalam kultur Indonesia yang patriarkhi, perkosaan sering menjadi simplifikasi sebagai hubungan suka sama suka dan tidak ada penyelesaian bagi korban, sedangkan si pelaku bisa dengan bebas berkeliaran bahkan mungkin mencari mangsa baru.

Ona harus bernegosiasi dengan dirinya sendiri untuk memperjuangkan harga dirinya yang telah terluka. Menurut tuturan Ona dalam film dokumenter ini, ia perlu waktu untuk bisa menceritakan luka yang ia alami termasuk pada kedua orang tuanya sendiri. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dia alami tidak mudah dituntun untuk sesuatu yang adil. Masyarakat kita masih memiliki budaya patriarki yang kental. Tidak masuk dalam nalar bahwa suami bisa memperkosa istri, karena pasti hubungan selalu dilandasi atas suka sama suka. Tapi kenyataan tidak demikian. Perempuan selalu termarjinalkan, sudah menanggung luka dan trauma karena perkosaan, namun masyarakat tidak percaya bahwa memerlukan keadilan.

Di sisi lain, Ona harus memenuhi harapan kedua orang tuanya dengan cara menjadi sarjana. Cara inilah satu-satunya yang bisa membuat kedua orang tuanya bangga dan ia memotivasi adik-adiknya. Namun, luka masa lalu yang belum terobati menjadi ketakutan besarnya. Stereotype sebagai perempuan ‘tidak perawan’ dan akan membawa aib bagi keluarga akan ia tanggung seumur hidupnya. Ia tidak punya cara lain untuk menyelamatkan kehormatan keluarganya selain dengan menerima si pemerkosanya sebagai calon suaminya kelak. Persoalan kekerasan domestik masih merupakan urusan yang pelik di Indonesia. Kentalnya budaya patriarki dalam segala aspek kebijakan dan kehidupan masyarakat sangat tidak menguntungkan perempuan. Dalam film ini, meski tidak terlalu jelas tercetus dalam tuturan-tuturan Ona, namun ia menuntut keadilan atas apa yang telah dialaminya. Meskipun ia sepertinya ‘berdamai’ dan ‘mengalah’ dengan menerima si pemerkosa sebagai calon suaminya, namun ia terus berjuang untuk keadilan harga dirinya sebagai perempuan.

Peran Ketiga: Ona sebagai perempuan muda yang bersolidaritas

Dalam piramida kekerasan yang dikenalkan oleh Johan Galtung, ada tiga jenis kekerasan (violence) yaitu direct violence (kekerasan langsung/fisik), structural violence (kekerasan struktural), dan cultural violence (kekerasan secara budaya). Tipe kekerasan yang dialami oleh Ona dalam film ini melingkupi ketiganya. Kekerasan yang dialami Ona masuk dalam kategori domestic violence karena dialami oleh individu yang pelakunya adalah orang yang dikenalnya. Kasus kekerasan seperti yang dialami Ona banyak dialami oleh perempuan di Indonesia. Fenomena ini seperti puncak gunung es. Jumlah kasus yang terungkap dan diketahui publik karena karena ada pihak yang melaporkan entah oleh korban (survivor/penyintas) sendiri atau dibantu oleh pihak lain yang mengetahuinya. Namun masih banyak perempuan yang belum siap membuka luka mereka sehingga kasus kekerasan ini tampaknya sedikit yang terlihat. Ada banyak faktor para perempuan korban belum atau tidak mau bersuara. Pertama, karena mereka masih takut ketika mereka bicara maka akan dianggap membuka aib sendiri. Kedua, meski mereka berbicara namun tidak banyak pihak yang berempati untuk membantu. Dibeberapa kasus, justru para aparat keaman tidak percaya pada laopran korban, dan atas nama harmoni, korban disarankan berbaikan dengan pelaku. Ketiga, karena ada kesan hukum tumpul dan tidak berpihak pada perempuan. Dalam banyak kasus, pelaku tetap bisa berkeliaran bebas tanpa ada hukuman yang menjeratnya. Maka, ketika hal itu terjadi, penawar rasa sakit yang cukup mempan bagi perempuan adalah dengan menggalang solidaritas sesama kaum perempuan untuk saling meringankan beban.

Saya melihat adanya solidaritas antar sesama perempuan dalam film dokumenter ini. Ada keberpihakan yang jelas dari pembuat film baik sutradara maupun produser untuk mendukung Ona agar bersuara melalui film ini. Suara Ona, bisa jadi akan mewakili suara puluhan atau bahkan ratusan perempuan yang tidak bisa atau belum siap bersuara. Dalam statement yang ditulis oleh sang sutradara, Dwi Sujanti Nugraheni terungkap bahwa empati sang sutradara pada subject-nya dalam film ini berdasarkan atas pengalaman personal yang sama. Sama halnya dengan Yayasan Kampung Halaman (YKH) yang bertindak sebagai produser film ini. Sebagai sebuah lembaga non pemerintah yang konsern dengan isu remaja (perempuan) di wilayah transisi, YKH melalui karya film ini memberi ruang pada perempuan muda untuk bicara.

Di bagian awal film ini Ona memperdengarkan suaranya, menceritakan kisah yang dialaminya pada sang sutradara film ini. Ona percaya pada sutradara dan produser sebagai pihak yang dapat dititipkan kisahnya. Dalam proses pembuatan film dokumenter, narasumber menanam kepercayaan kepada pembuat film atau sebaliknya pembuat film memenangkan kepercayaan dari subyeknya bukan perkara yang mudah. Butuh proses panjang untuk saling mempercayai apalagi kepingan kisah ini bukanlah kisah bahagia tapi kegetiran. Membangun kepercayaan, saling mendukung, lalu bersolidaritas bersama menghasilkan karya kolaboratif sangat terasa jelas dalam film ini. Semoga film ini juga bisa menularkan hal yang sama kepada penontonnya.

Share:

Share on twitter
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on email
Share on linkedin
Yuli Andari Merdikaningtyas

Yuli Andari Merdikaningtyas

Lebih dari sepuluh tahun bekerja dan berkolaborasi dengan komunitas anak muda di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat melalui media dan seni untuk pemberdayan. Pendiri komunitas film Sumbawa Cinema Society ini juga pernah menghasilkan karya film dokumenter yang mengangkat konten budaya lokal. Saat ini sedang menempuh master International Peace and Conflict Studies di Warsawa, Polandia melalui Beasiswa Pemerintah Provinsi NTB.

More Articles

Gallery - Between The Devil and The Deep Blue Sea

Menjadi Ona

Suara ombak terdengar mengantarkan cerita seorang perempuan mengenai kesialan yang dialaminya pada suatu malam. Kesialan yang hanya ada untuk orang-orang yang tidak terlindungi.
Gallery - Between The Devil and The Deep Blue Sea

Apa Hal Paling Gila Yang Pernah Kau Lakukan Demi Cinta?

Seseorang mungkin mengganti nama kontak di telepon genggam dengan panggilan “mama-papa” atau “ayah-bunda”. Seorang lain mungkin membeli kaos couple dan memaksa pacar memakainya saat jalan berdua. Kamu mungkin rela diet ketat demi pujian dari pacar.
Ona

Getting through life with Ona

The year of 2020 is coming, and we witness more and more Indonesian women being at the forefront of the nation’s change and having positions in the leadership ladder. Meanwhile, there are also still many women who continue to face…
All articles loaded
No more articles to load