Menjadi Ona

Oleh Andi Fatimah Azzahra

 

Suara ombak terdengar mengantarkan cerita seorang perempuan mengenai kesialan yang dialaminya pada suatu malam. Kesialan yang hanya ada untuk orang-orang yang tidak terlindungi. Untuk perempuan-perempuan yang melindungi dirinya sendiri. Ona adalah seorang remaja dari Kaledupa, yang dekat dengan kehidupan pesisir. Saat ini ia berkuliah di salah satu Universitas di Kendari. Sewaktu SMA, ia diperkosa oleh seseorang yang terlihat seperti pacarnya sendiri. Ona merasa harus bertunangan karena mengira dirinya hamil dan jika itu benar, ia akan dihina masyarakat dan itu akan sangat berat untuknya. Sementara jika ia bersama La Nua, masyarakat juga akan tetap mencercanya sebab La Nua adalah pembuat onar dan Ona akan terjebak bersamanya. Ona berada diantara pilihan-pilihan yang sama buruknya untuk dirinya sendiri. Yang membuat film ini berjudul; Between The Devil and The Deep Blue Sea (2019).

Sebagian besar masyarakat Kaledupa dulunya adalah hasil persebaran penduduk dari kerajaan Kesultanan Buton, Sulawesi Tenggara. Hingga sekarang, orang Kaledupa sangat dekat dengan tradisi, nilai dan norma-norma dari agama Islam, terutama mengenai perempuan dalam tatanan masyarakat. Tentu saja, dalam budaya patriarki, nilai-nilai yang dimaksudkan untuk melindungi perempuan ini dianggap baik. Dan yang dianggap mampu untuk menjaga hal-hal tersebut adalah seorang lebe, saudara laki-laki dan orang tua. Lebe adalah orang yang dianggap sebagai teladan yang sejak dulu berperan sebagai pemimpin upacara tradisi dan pembaca doa (Hindaryatiningsih, 2016: 108-115). Nilai-nilai lokal seperti kepatuhan harus dimiliki oleh generasi muda, laki-laki sebagai sumber pencari nafkah, perantau dan pusat ideologis segala hal, sedangkan perempuan berperan sebagai instrumen utama di dalam rumah tangga (Murniyati dan Burhan, 2016). Seiring berjalannya waktu, perempuan mulai berperan ganda. Dan diantara bentrokan nilai dan perubahan sumber ekonomi yang terjadi, Ona berada di tengah semua itu selain masalah yang dialaminya akibat La Nua.

Ona adalah seorang anak yang membentuk pendapat-pendapatnya sendiri dan mampu mengkomunikasikannya dengan orang tuanya. Perbedaan yang terjadi di antara Ona dan kedua orang tuanya di dalam satu rumah yang terjadi secara simultan pada titik-titik tertentu menjadi cukup penting. Ona dianggap malas. Kegemarannya mengunjungi acara joget adalah salah satu hal yang dianggap yang memperburuk keadaannya. Namun Ona selalu mempunyai jawaban- jawaban kecil untuk membalas segala pernyataan yang bukan pertanyaan dari orang tuanya. Kita melihat kemampuan Ona dalam menciptakan pernyataan-pernyataan seperti “Cara berpikir kita berbeda. Jika aku bisa membawa semua beras, tempat tidur dan meja, akan aku bawa. Supaya tidak perlu membeli apapun disana. Tapi saya tidak bisa membawanya karena masih harus singgah di beberapa tempat yang belum diketahui waktunya.” Pernyataan yang membuat Bapak dan Ibunya diam karena mulai memahami situasi perjalanan yang akan ditempuh anaknya untuk berkuliah di Kendari. Film sebagai medium berdurasi terbatas yang dimaksudkan sebagai ektraksi dari seluruh kehidupan dan dinamika yang dialami manusia dapat tersusun dengan baik pada dokumenter observatory ini.

Percakapan-percakapan yang terekam antara Ona dan orang tuanya cukup menghibur. Perasaan campur aduk yang rasanya cukup dekat untuk menggambarkan cinta kasih antara orang tua dan anak. Suku Buton (Wolio) memang dekat dengan sifat-sifat musyawarah yang diharapkan terjadi dalam setiap institusi sosial (Hindaryatiningsih, 2016). Ona dan Ayah- Ibunya juga cukup komunikatif misalnya mengenai konsentrasi biologi bawah laut (Marine biology) yang akan diambil Ona semester selanjutnya. Ayah Ona mampu mengintervensi perubahan Ona yang cukup signifikan mengenai kemalasan, yaitu saat ia mulai memasuki SMA. Tidak sekeras kalimat pembukanya, obrolan singkat itu ditutup dengan kalimat yang terbuka dari Ayahnya, bahwa itu semua hanya bisa dirasakan oleh Ona sendiri. Meskipun keluarga Ona terlihat cukup terbuka, kita masih dapat menyaksikan beberapa hal fundamental yang hanya akan terjadi pada wilayah-wilayah yang masih memegang teguh adat istiadat. Misalnya ketika Ibu Ona membawa Ona ke hadapan seorang Ustad (lebe) untuk diruqiah sebagai salah satu bentuk penyelesaian masalah yang dihadapi Ona. Adegan ini cukup kocak untuk disaksikan. Bukan hanya karena sepertinya Ona memang terlihat kerasukan, namun juga ada respon yang unik dari Ibu Ona, yang dalam film ini terlihat sebagai sosok yang berpikiran terbuka di setiap saatnya menemai Ona, namun juga masih berusaha memegang nilai-nilai leluhur.

Dwi Sujanti Nugraheni menangkap karakter seorang anak yang menanggapi lika-liku hidupnya dengan cukup kocak namun cukup serius di beberapa bagian. Ia terlihat sebisa mungkin menempatkan dirinya secara netral terhadap Ona dan dunia di sekitar Ona, terhadap orang tua dan kontradiksi yang ada di dalam diri Ona bahwa kemudian La Nua tidak menjadi persoalan yang penting di dalam pilihan-pilihan Ona. Toh bagaimana pun, La Nua bisa bebas sebebas- bebasnya bahkan setelah ia dipenjara karena kasus menikam orang. Bukan karena telah menyetubuhi Ona secara paksa. Seolah-olah pertunangan dan rencana akan menikahinya membuat kejadian malam itu bisa dihapuskan untuk menyelesaikan persoalan anak-anak ini. Pernahkah kita berpikir tentang apa yang telah kita lakukan sehingga seorang anak manusia bisa membuat pilihannya sendiri untuk bertanggung jawab terhadap hidupnya di dalam masyarakat dengan menikahi si pemerkosa? Bagaimana bisa ia memberikan sebagian dirinya untuk menghabiskan hidup bersama La Nua? Dalam kasus ini, Ona dan orang-orang yang ingin menolongnya tidak akan kemana-mana selain kembali dicerca khalayak dengan peradilan hukum yang ada saat ini.

Berdasarkan Indeks Kesejahteraan Perempuan di dunia melalui majalah National Geographic edisi 11 tahun 2019 yang mengukur pemberdayaan melalui 3 kategori; Keadilan, Keamanan dan Penyertaan yang dipecah menjadi 11 subkategori, diantaranya: diskriminasi hukum, bias anak lelaki, norma diskriminatif, kekerasan terorganisasi, keamanan masyarakat, kekerasan oleh pasangan, pendidikan, akses keuangan, pekerjaan, penggunaan ponsel dan perwakilan di pemerintah, Indonesia berada pada peringkat 95 dari 167 yang terdaftar. Sementara yang terburuk dari 167 itu jatuh pada Yaman, Afganistan, Suriah, Pakistan, Nigeria, dan 9 negara lainnya termasuk Somalia. Dari subkategori di atas, Indonesia masih lesu terhadap penyertaan pendidikan, akses keuangan, pekerjaan, keamanan masyarakat, dan yang terburuk pada penyertaan perwakilan di pemerintahan, keadilan norma diskriminatif, diskriminasi hukum dan keamanan masyarakat. Apa yang terjadi?

Adanya gerbong kereta khusus untuk perempuan terlihat sebagai bentuk perhatian yang cukup spektakuler. Namun itu hanya terjadi di ibukota. Bagaimana dengan remaja perempuan yang berada di wilayah pedesaan dan kota-kota di sekitarnya? Apakah jilbab, hijab hingga beberapa lembar kain berlapis dianggap cukup untuk menjaga keseharian mereka? Tidak kah para oknum yang melakukan pelecehan seksual dengan berbagai bentuk ini merasa tercela saat melihat perempuan harus menutup kulitnya dengan sedemikian rupa hanya karena mata, bibir dan tangan mereka tidak mampu dikontrol meskipun dalam wujud yang samar seperti bercanda, pujian dan keakraban yang mengarah pada pelecehan seksual. Pada aspek lain, selain ditekankan untuk mengurus rumah dan (kini) membantu pendapatan keluarga, perempuan juga masih harus bertarung dengan “bercandaan” verbal, non-verbal, hingga sentuhan fisik “tipis- tipis” rekanannya, baik yang terjadi di institusi pendidikan dan di lingkungan kerja yang diam akibat relasi kuasa dan objektifikasi terhadap perempuan. Perempuan harus menutup diri mereka rapat-rapat dari berbagai sisi. Sebab jika tidak, kemalangan yang mereka alami hanya bisa ditanggung sendiri akibat diskriminasi norma terhadap perempuan, terutama di wilayah pedesaan seperti di Kaledupa.

Kasus-kasus terhadap pemerkosaan perempuan di jalan itu biasa. Siapa suruh perempuan ke jalanan. Perempuan itu dan keluarganya akan mampu berdamai dengan si pemerkosa dan keluarganya. Masalah selesai. Berita baru akan menjadi heboh dan sangat menjual ketika ada 12 pemerkosa yang dilengkapi dengan pembunuhan di akhir cerita. Diperbincangkan selama satu minggu dan masalah yang dibikin selesai dengan Undang-Undang kaget yang baru saja dibuat. Keputusan peradilan yang tidak adil sejak dalam pikiran, mengumumkan ganjaran yang dianggap pantas untuk tersangka, kasus ditutup. Para korban, tentu saja tidak banyak urusan terhadap keputusan-keputusan seperti itu. Pertanyaan selanjutnyanya adalah: bagaimana negara dan masyarakat hadir dalam persoalan ini? Persoalan-persoalan ketika setiap orang kembali ke kehidupannya masing-masing. Apakah setiap remaja perempuan harus bersikap seperti Ona? Yang bagi saya hanya terlihat seperti sedang menghukum dirinya sendiri. Bahwa Ia harus menikah dengan La Nua. Ona ternyata rapuh dan menjadi semakin rentan dalam pengambilan keputusan tanpa adanya pengetahuan mengenai seksualitas. Kedua, ia sendirian dalam permasalahan ini (sebab hal-hal tersebut masih sangat tabu dibicarakan dalam bentuk pendidikan yang lebih terbuka). Kedua hal itu saja sudah cukup untuk membuatnya diperkosa di negara ini, sebagai seorang perempuan.

Dalam masyarakat patriarki Wolio atau Buton dan sekitarnya, pada teks-teks cerita rakyat (Wandiudiu) dan tradisi lisan yang masih mudah kita temui ketika berkunjung kesana, kekuasaan laki-laki diposisikan sebagai pihak domineer yang mampu berujung pada tindakan arogansi atau tirani hingga kekerasan fisik dalam pelaksanaannya (Karim, 2005). Kekerasan simbolik terjadi dalam keseharian fungsi budaya patriarki dan merupakan bentuk kekerasan yang paling sulit diatasi karena tidak terlihatnya luka fisik maupun traumatis bahkan korban tidak merasa telah didominasi maupun diobjektifikasi. Prinsip simbolik diketahui dan diterima, baik oleh yang menguasai dan yang dikuasai (Haryatmoko, 2010).

Saya selalu berhati-hati dalam setiap wacana, diskursus, maupun dalam mengkonsumsi referensi mengenai gender dalam menghadapi permasalahan dalam konteks masyarakatnya, termasuk ketika menonton Between The Devils and The Deep Blue Sea. Informasi-informasi mengenai masyarakat patriarki yang terlalu sering disebut sebagai akar masalah akan mudah menjadi masalah lainnya jika tidak dipahami secara utuh. Keseimbangan peran yang terjadi di dalam keluarga Ona merupakan hal-hal yang langka. Dalam film ini, Ayah dan Ibu berperan setara dan saling bergantian dalam mengawal anaknya. Ayah mampu merengkuh anak perempunnya dan juga berfungsi sebagai sosok laki-laki teladan yang memimpin keluarganya secara karismatik sebagai di dalam institusi keluarga yang lengkap. Namun bagaimana dengan beberapa keluarga yang tidak memiliki sosok teladan seperti demikian? Atau dengan keluarga yang memiliki satu hingga beberapa laki-laki tapi terlalu kaku, tidak terbuka, memaksakan kehendak terhadap nilai dan norma yang dipahaminya sementara di sisi lain kebudayaan dan manusia itu sendiri pada dasarnya juga bersifat dinamis.

Kemajuan teknologi dan kebutuhan ekonomi yang mulai mengintervensi perlu dibarengi dengan pelembagaan nilai-nilai yang tidak mengobjektifikasi perempuan. Untuk membuatnya lebih efektif lagi adalah dengan adanya injeksi terhadap sistem pengetahuan seksualitas dan peran gender yang seimbang, bukan hanya melalui pendidikan formal tetapi juga yang informal dalam keseharian. Nilai-nilai dan norma yang dipahami perlu dikaji ulang dengan lebih spesifik lagi secara langsung dalam tatanan masyarakat demi berlangsungnya pewarisan tradisi budaya yang ideal. Transisi dalam kehidupan menghadapkan individu pada perubahan- perubahan dan tuntutan-tuntutan sehingga diperlukan adanya penyesuaian diri. Runyon dan Haber (Irene, 2013) mengatakan bahwa setiap orang pasti mengalami masalah dalam mencapai tujuan hidupnya dan penyesuaian diri sebagai keadaan atau sebagai proses. Mereka terus menerus mengubah tujuannya sesuai dengan keadaan lingkungannya. Individu mengubah tujuan dalam hidupnya seiring dengan perubahan yang terjadi dilingkungannya.

Harapan-harapan seperti itu hanya bisa terjadi jika proses perubahan sosial didampingi dan didukung dengan kesadaran penuh oleh semua pihak di berbagai kalangan. Utamanya di wilayah-wilayah yang masih belum terjamah secara berkelanjutan oleh sistem pemerintahan yang sesuai dengan tiap suku dan ragamnya kebudayaan di Indonesia. Jika proses-proses fundamental tadi dilalui dengan kemajuan secara berkala, maka wujud nyata pengaplikasiannya dalam masyarakat mulai terlihat. Perempuan dan anak-anak diharapkan bisa merasa aman, dimanapun, kapanpun dan ketika berhadapan dengan siapa pun dalam kesehariannya. Sifat-sifat maskulin atau maskulinitas yang secara kaku dan tidak lengkap dipahami oleh masyarakat secara umum dan awam, bukan hanya membawa permasalahan bagi perempuan. Seorang kawan saya yang bekerja di Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak sewaktu saya mengunjunginya di Jakarta pada tahun 2019 berkata bahwa saat ini data pelecehan seksual secara fisik terjadi pada anak laki-laki yang dilakukan oleh pria dewasa. Anak kecil pada umumnya belum dibekali dengan pengetahuan seksual dan dalam beberapa kasus terkhusus terhadap anak laki-laki (selain karena faktor lainnya), juga ditanamkan sejak dini untuk tidak cerewet dan mengadopsi nilai serta wujud-wujud maskulin yang dipahami secara kolektif.

Tradisi merantau yang dulu hanya dilakukan pria, kini bisa dilakukan oleh perempuan Kaledupa untuk peningkatan “kualitas” perempuan demi memenuhi kebutuhan ekonomi perlahan juga mempengaruhi fungsi dimensi lain dengan kembalinya mereka kembali ke rumah atau dalam konteks perantauan ini, pulang ke daerahnya masing-masing. Merantau berarti lingkungan yang baru, penyesuaian yang baru, memunculkan kemungkinan- kemungkinan menjadi diri yang baru. Salah satu motivasi orang merantau adalah rasa ingin tahu dan pembuktian diri untuk menjadi mandiri. Secara psikologis kondis-kondisi tersebut membuat perantau merasa telah dewasa dan mampu berpikir secara logis. Sementara Ona, remaja lainnya, hingga yang memasuki dewasa muda pun cenderung berada dalam kondisi labil dalam proses eksplorasi yang krusial pada masa itu.

Ona adalah individu yang berada pada masa transisi arus perubahan budaya dan ia juga mengalami kekerasan verbal dan fisik yang tidak boleh diketahui beberapa kelompok masyarakat yang tidak menyediakan solusi jika pun mengetahuinya. Kita mengetahui bahwa perempuan di belahan bumi manapun telah berjuang dalam berbagai wujudnya sejak dulu. Data statistik yang ada ternyata belum cukup untuk mempertanyakan apa saja yang telah kita perbuat selama ini terhadap satu hal ini saja? Hampir semua perempuan di negara berkembang didesak untuk berperan ganda. Pengendalian sosial hanya dititik beratkan terhadap penampilan luar dengan harapan masyarakat terhindar dari kekacauan dan setiap orang hanya perlu bersifat konformis, menyepakati mayoritas dan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh Roucek, kontrol sosial adalah istilah kolektif terhadap proses yang direncanakan maupun tidak direncanakan, yang bersifat mendidik, mengajak, membujuk atau memaksa individu untuk beradaptasi dengan kebiasaan dan nilai-nilai kelompok (dalam Setiadi dan Kolip, 2011: 252).

Film ini kembali mengingatkan kita bahwa hingga saat ini di Kaledupa, bahkan di dalam keluarga Ona yang telah bersifat terbuka terhadap pendidikan formal perempuan (meskipun untuk tujuan perekonomian) masih mengandalkan pengendalian sosial yang terlalu normatif – yang sudah tidak sesuai dengan realitas. Apa yang dialami Ona hingga saat ini menunjukkan betapa nyatanya sub-ordinasi perempuan di hadapan laki-laki. Ona hanyalah satu contoh yang berhasil direkam dari banyak remaja lainnya, yang tidak mampu dijangkau negara maupun masyarakat sekitarnya mengenai persoalan-persoalan yang mereka hadapi seorang diri. Di sela-sela situasi klenik yang dibentuk masyarakat dengan norma yang diskriminatif, ia tetap ada disana, bersekolah untuk dirinya, akan mencari nafkah untuk keluarganya dan menanam kembali batu karang di laut untuk kehidupan bawah air kampung halamannya.

Share:

Share on twitter
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on email
Share on linkedin
Andi Fatimah Azzahra

Andi Fatimah Azzahra

Terlibat dalam beberapa produksi film fiksi dan dokumenter sejak tahun 2013, Zahra juga menyelesaikan studi di Departemen Antropologi Unhas Makassar. Saat ini masih terus belajar dalam memahami etnografi serta pengembangan cerita dan konsep untuk medium audio-visual.

More Articles

Gallery - Between The Devil and The Deep Blue Sea

Pahit Manis Dalam Tiga Peran Ona

Ona adalah satu dari segelintir perempuan yang beruntung dapat mengakses pendidikan tinggi dan menuntut ilmu di sebuah universitas di Kendari yang jaraknya ratusan kilometer dari desanya yang terpencil dan terisolasi laut.
Gallery - Between The Devil and The Deep Blue Sea

Apa Hal Paling Gila Yang Pernah Kau Lakukan Demi Cinta?

Seseorang mungkin mengganti nama kontak di telepon genggam dengan panggilan “mama-papa” atau “ayah-bunda”. Seorang lain mungkin membeli kaos couple dan memaksa pacar memakainya saat jalan berdua. Kamu mungkin rela diet ketat demi pujian dari pacar.
Ona

Getting through life with Ona

The year of 2020 is coming, and we witness more and more Indonesian women being at the forefront of the nation’s change and having positions in the leadership ladder. Meanwhile, there are also still many women who continue to face…
All articles loaded
No more articles to load