Apa Hal Paling Gila Yang Pernah Kau Lakukan Demi Cinta?

Oleh Titah AW

Seseorang mungkin mengganti nama kontak di telepon genggam dengan panggilan “mama-papa” atau “ayah-bunda”. Seorang lain mungkin membeli kaos couple dan memaksa pacar memakainya saat jalan berdua. Kamu mungkin rela diet ketat demi pujian dari pacar. Kamu yang lain mungkin pernah mencuri uang SPP untuk beli kado saat ulang tahun pacar. Jangan malu juga kalau kamu pernah beli celengan ayam lalu menabung berdua untuk biaya bayar catering nikahan di masa depan.

Ona, menjual satu-satunya laptop miliknya dan menggunakan uangnya untuk menebus pacarnya dari penjara.

Terdengar gila? Tentu saja, tapi ayolah. Semua orang pernah melakukan hal gila saat pacaran, apalagi semasa remaja.

Jatuh cinta dan ingin punya relasi dengan orang lain adalah bagian yang lumrah dari pengalaman menjadi remaja. Di tahun-tahun inilah, dengan kepolosan yang dibalut seragam biru-putih, abu-abu putih, atau saat bebas dari seragam di masa awal kuliah, kita bisa merasakan jantung berdebar tak karuan atau pipi yang bersemu merah jambu hanya karena berpapasan atau ngobrol dengan orang lain. Beberapa sampai ke tahap menjalin relasi atau pacaran, beberapa kandas di tahap gebetan, tapi keduanya sama-sama meninggalkan kesan mendalam.

Tak ubahnya masuk angin atau sariawan, sebenarnya jatuh cinta bisa dialami oleh siapa saja. Saat mengalami ini, remaja mengalami perasaan menggebu-gebu yang kadang susah dikontrol. Hal ini membuat mereka bisa melakukan hal-hal gila, nekat, konyol, demi mengikuti insting dan perasaan mereka ini. Sebuah penelitian soal kesehatan remaja secara nasional di Amerika yang melibatkan ribuan sampel remaja berumur 7-12 tahun menyebut bahwa 80% dari mereka telah terlibat dalam relasi romantis. Kebanyakan memang merupakan relasi jangka pendek alias tak bertahan lama, khususnya remaja yang umurnya masih sangat muda. Penelitian ini juga menyebut, di negara berkembang seperti Indonesia, angkanya relatif serupa untuk umur remaja yang terlibat lebih tua.[1]

Saking sering menyebabkan banyak drama dan berbagai kelakuan tidak terduga, cinta-cintaan saat remaja ini sering disepelekan oleh orang yang lebih dewasa. Disebut cinta monyet, dan dipandang sebagai sebuah pengalaman tidak serius. Padahal sebenarnya cinta masa remaja punya banyak alasan masuk akal dan dampak yang justru positif untuk hari-hari depan.

Usia remaja adalah masa-masa paling menyenangkan dan menyebalkan sekaligus. Di umur-umur ini, kita ada di batas, terlalu anak-anak untuk melakukan hal-hal dewasa, tapi juga sudah cukup dewasa untuk diperlakukan sebagai anak-anak. Di hari-hari ini juga, kita diserang banyak pertanyaan dari hal-hal yang sebelumnya tidak kita tahu, bahkan tidak kita pikirkan. Soal kehidupan, identitas diri, dan entah apa lagi. Membaca banyak penelitian soal remaja, saya bisa menyimpulkan bahwa remaja adalah hari-hari membingungkan baik secara emosional maupun biologis.

Kondisi tubuh sedang bertransformasi dan mengalami perkembangan drastis yang membuat banyak emosi terasa lebih susah untuk dikendalikan. Hal ini bisa diusut secara biologis. Perkembangan otak manusia di usia remaja oleh para peneliti bisa disebut “work-in-progress” alias dalam pengerjaan.[i] Di tahap ini, beberapa bagian otak berkembang lebih cepat dari yang lain, akibatnya kadang situasi fisik, emosi, dan perkembangan kemampuan berpikir mereka tidak singkron. Di saat yang sama, hal ini memengaruhi hormon dalam tubuh yang punya dampak besar terhadap perasaan atau emosi yang intens. Testosteron dan estrogen misalnya, memengaruhi urgensi kita terhadap hal-hal seksual, sementara oksitosin dan vasopresin berpengaruh pada kebutuhan kita akan ikatan dan relasi.

Saat semua hal biologis tersebut berlangsung, remaja belum punya pengalaman mengatasi perasaan atau masalah yang berakibat kurangnya kemampuan berpikir rasional atau strategis. Tak bisa disalahkan, karena menjadi remaja sama saja dengan mengalami pertama kali memasuki “permainan” jadi manusia dewasa yang tak punya aturan main atau buku panduan baku apapun.

Kita mungkin bisa menertawakan adik atau teman remaja kita yang menangis hebat karena putus cinta, tapi percayalah, bagi mereka mungkin memang rasanya memang sesakit itu. Apa yang kita sebut cinta monyet, oleh remaja bisa dianggap sebagai masalah yang tak kalah serius dibanding perundingan antar negara soal bom nuklir.

Kelak ketika dewasa, kita atau mereka mungkin akan mengenang hari-hari itu dengan tawa terbahak. Menertawakan kekonyolan diri sendiri yang diperbuat atas nama cinta. Namun seperti pepatah usang yang mengatakan “pengalaman adalah guru terbaik”, maka pacaran atau cinta monyet juga akan mengajari remaja banyak hal.

Mencerna perasaan cinta saat remaja layaknya arena latihan untuk keintiman kelak saat dewasa, sebuah pemantik pertumbuhan psikologis yang baik. Dari cinta-cintaan zaman sekolah, remaja belajar mengendalikan emosinya sendiri, menyelesaikan konflik, mengomunikasikan kebutuhan dan perasaannya, serta tentu saja mengenali diri sendiri dan bagaimana posisinya dengan orang lain.

Penjelasan di atas mungkin masih dalam konteks semesta diri secara individu, namun ketika pengalaman ini di bawa ke semesta remaja dalam konteks yang lebih luas, kita akan makin yakin bahwa cinta monyet ini memang tak seharusnya disepelekan.

Apalagi ketika menyadari bahwa ya, beberapa remaja hidup dalam kondisi yang lebih ruwet ketimbang remaja yang lain. Ona contohnya.

Di film garapan Yayasan Kampung Halaman berjudul Between The Devil and The Deep Blue Sea, kita diperlihatkan bagaimana relasi Ona dengan La Nua (kekasihnya) bukan sekedar pengalaman cinta monyet belaka. Hubungan mereka adalah puncak gunung es yang ketika diselami menunjukkan kompleksitas masalah yang bisa dihadapi oleh remaja.

Kembali ke tindakan gila Ona menjual laptop untuk kekasihnya, Ona tentu saja mendapat marah dari orang tuanya. Tak hanya marah, kedua orang tua Ona yang nelayan berpenghasilan minim bahkan memutuskan menghentikan pembiayaan studi anak perempuannya itu.

Satu buah laptop mungkin tak seberapa untuk remaja yang lahir di keluarga konglomerat, tapi untuk Ona yang orang tuanya harus berhutang di tetangga atau menjual kambing demi membayar uang kuliah, itu bisa berarti segalanya. Ketika anak perempuan yang mereka perjuangkan justru melakukan hal nekat demi laki-laki yang kena hukum bui setelah menusuk temannya di jalan, tentu hati mereka remuk.

Barangkali di mata orang tunya, Ona tak ubahnya remaja labil yang sedang mabuk cinta sehingga bisa melakukan hal-hal tak masuk akal.

Yang tidak diketahui orang tuanya, Ona memutuskan pacaran dengan La Nua demi menjaga nama baik keluarga. Yang juga tidak diketahui orang tuanya, Ona diperkosa La Nua di kencan pertama mereka dan telah dengan sangat berani datang ke keluarga La Nua dan menuntut La Nua untuk melamarnya setelah selesai kuliah. Yang sama-sama kita ketahui, pacaran yang baik bisa dimulai dengan apapun, kecuali kekerasan seksual.

Tapi Ona tidak punya banyak pilihan. Dengan kapasitas yang ia punya, Ona telah menyusun jalan keluar paling realistis dan ketika tak berjalan mulus ia justru terjebak dalam situasi yang lebih rumit lagi.

Menonton Between The Devil and The Deep Blue Sea telah menyingkap tantangan yang dihadapi remaja. Di balik cerita-cerita mereka soal pacaran dan cinta monyetnya, barangkali tertimbun masalah yang jauh lebih kompleks. Dalam kasus Ona, saya bahkan tak tahu isu apa yang paling tepat digunakan untuk membedah masalahnya. Apakah ketimpangan sosial? kurangnya pendidikan seksual? kesetaraan gender? atau apa?

Pada satu diri Ona, bisa dilihat bagaimana kesemua isu tersebut saling tumpang tindih dan memengaruhi.

Secara fisik tubuh remaja memang sangat enerjik, namun perlu diingat bahwa masa-masa ini juga adalah masa paling rentan bagi mereka. Tanpa pengalaman menjadi dewasa dan menghadapi masalah yang rumit, mereka tak bisa sepenuhnya independen meski hasrat untuk itu pasti terasa menggebu.

Untuk itu alih-alih menghakimi pengelaman mereka, kita bisa mendukung pertumbuhan mereka. Validasi perasaan remaja, apapun bentuknya. Berikan penjelasan secara pelan-pelan, dengan cara komunikasi yang bisa mereka terima dan pahami. Relasi dan belajar mencintai adalah hal baik, asal dilakukan dengan penuh kesadaran. Penghakiman akan membuat remaja takut membagikan perasaan mereka, membuat mereka merasa sendiri, yang pasti berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang dialami Ona.

Beruntung Ona adalah remaja yang sangat kuat, baik secara fisik dan mental. Menghadapi situasi sulit, Ona bertahan dan bahkan mau bekerja keras untuk kemudian menciptakan pilihan untuknya sendiri. Di akhir film, kita akan melihat Ona sebagai perempuan yang lebih dewasa dan mandiri.

Tapi sungguh, tak semua remaja seberuntung dan semalang Ona. Remaja lain bisa jadi putus asa dan depresi setelah diperlakukan seperti Ona di kencan pertama dan memilih bunuh diri ketimbang mengejar cita-citanya.

Sebagai antisipasi, ekosistem yang mendukung harus diciptakan. Jadilah teman, kakak, orang tua, atau orang dewasa yang cukup rendah hati untuk mengerti mereka. Bagikan pengalaman menjadi remaja kalian, bagikan kebijaksaan yang telah kalian petik dari peliknya jadi remaja. Tanpa mengecilkan masalah cinta monyet mereka, bagikan pengalaman lain kalian soal persahabatan, pengalaman berkarya, dan petualangan lain yang juga sama berharganya. Katakan pada mereka, “Aku tahu jadi remaja itu membingungkan sekali, tapi kalian akan baik-baik saja!”

 

[1] https://thepsychologist.bps.org.uk/volume-29/july/teenagers-love

Share:

Share on twitter
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on email
Share on linkedin
Titah AW

Titah AW

Bekerja sebagai jurnalis independen untuk berbagai media, termasuk VICE Indonesia. Sejak masih menempuh studi Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada, ia telah mengelola media musik independen bernama WARNINGMAGZ. Tulisan-tulisannya berfokus pada dinamika budaya dan isu anak muda. Ia percaya bahwa jurnalisme yang bertutur sebagai cerita bisa jadi taktik memahami, bahkan hal paling absurd di hidup dan dunia.

More Articles

Gallery - Between The Devil and The Deep Blue Sea

Menjadi Ona

Suara ombak terdengar mengantarkan cerita seorang perempuan mengenai kesialan yang dialaminya pada suatu malam. Kesialan yang hanya ada untuk orang-orang yang tidak terlindungi.
Gallery - Between The Devil and The Deep Blue Sea

Pahit Manis Dalam Tiga Peran Ona

Ona adalah satu dari segelintir perempuan yang beruntung dapat mengakses pendidikan tinggi dan menuntut ilmu di sebuah universitas di Kendari yang jaraknya ratusan kilometer dari desanya yang terpencil dan terisolasi laut.
Ona

Getting through life with Ona

The year of 2020 is coming, and we witness more and more Indonesian women being at the forefront of the nation’s change and having positions in the leadership ladder. Meanwhile, there are also still many women who continue to face…
All articles loaded
No more articles to load